Bersihkan yang Kotor Dengan Air Kotor ?

Berita yang sedikit menenangkan datang dari hasil keputusan Komite Banding yang memproses banding calon Ketua Umum PSSI (yang tidak lolos verifikasi) yang telah mengeluarkan keputusannya menolak permohonan banding dan menganulir (membatalkan) hasil verifikasi komisi pemilihan PSSI yang meloloskan Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie.

Meski begitu, kalanganpengamat menilai hasil keputusan Komisi Banding ini merupakan langkah 'cari aman'. "Komite Banding cari aman," ujar pengamat sepakbola Tondo Widodo saat berbincang dengan detikSport, Sabtu (26/2/2011).

"Kalau mereka menerima banding Arifin Panigoro dan George Toisutta, mereka dicap takut pada intervensi. Sementara kalau menolak, mereka akan dicap pro PSSI dan anti aspirasi masyarakat," papar Tondo.

Masih dari DetikSport, Tondo sendiri menyatakan kekhawatirannya bila hasil banding yang akan diserahkan ke FIFA ini bisa menimbulkan deal-deal tersembunyi antara PSSI dan FIFA. "Nanti hal ini akan dilaporkan ke FIFA bahwa ada kevakuman kepemimpinan karena Nurdin Halid jabatannya habis April nanti. Nantinya, FIFA yang akan memutuskan apakah akan menunjuk caretaker atau bagaimana," paparnya.

Keputusan itu bakal banyak tergantung dari deal yang tercapai antara PSSI dengan FIFA. Tondo mewanti-wanti PSSI agar tidak bermain-main dengan menawarkan deal-deal tersembunyi dengan FIFA.

Kekhawatiran ini cukup beralasan karena ada dugaan bahwa ada sejumlah anggota Komisi Eksekutif FIFA berupaya membela Nurdin karena dianggap sekutu mereka di Indonesia.

Seperti yang kita ketahui, di badan tertinggi sepakbola dunia FIFA sendiri sempat marak praktek korupsi dan suap yang dituduhkan kepada beberapa petinggi FIFA.

Seperti yang pernah diberitakan CNN, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menggelar penyelidikan lewat Komisi Etik atas Issa Hayatou yang merupakan salah seorang anggota IOC, wakil presiden FIFA dan presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) yang telah menerima $ 15.000 sebagai suap pada tahun 1995 dari sebuah perusahaan pemasaran.

Hayatou adalah salah satu dari tiga pejabat FIFA termasuk Nicolas Leoz dari Paraguay dan Ricardo Teixeira dari Brasil yang disebut oleh BBC sebagai menerima suap dari perusahaan pemasaran ISL di ajang Piala Dunia di tahun 1990-an.

Disalah satu berita BBC Sport pernah mewartakan beberapa anggota Komite Eksekutif FIFA di dicabut hak suaranya dalam pengambilan suara penetapan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. Anggota komite eksekutif FIFA tersebut antara lain, Amos Adamu dan Reynald Temarii.

Adamu dihukum karena diduga telah meminta uang imbalan untuk suaranya dalam forum pengambilan suara Piala Dunia. Adamu meskipun mengaku tidak bersalah bersalah tetap dikenakan hukuman dan denda sebesar didenda 10.000 franc Swiss ($ 10.200) dan Temarii didenda sebesar 5000 franc.

Masih dari BBC, empat orang anggota Komite Eksekutif FIFA antara lain Ismael Bhamjee (Botswana), Amadou Diakite (Mali), Ahongalu Fusimalohi (Tonga) dan Slim Aloulou (Tunisia) dihukum denda masing-masing sebesar 10.000 franc dan dibekukan keanggotaannya selama  2 hingga 4 tahun.

Jadi bagaimana ? Bila di FIFA sendiri marak dengan praktek kotor seperti di PSSI (suap menyuap), mungkinkah mereka mampu menyelesaikan masalah yang membelit PSSI dengan 'Fair Play' tanpa kolusi, korupsi dan suap hanya untuk mempertahankan pihak tertentu di kursi kepemimpinan PSSI ?

Post new comment

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.