Gak Pernah Serius

Mimpi untuk menjadi juara sepakbola piala AFF (AFF Cup) semakin jauh dan sulit, dengan kekalahan telak 3 - 0 atas kesebelasan Malaysia semalam (26/12) sungguh mengecewakan. Kritik dan kecaman pedas sudah pasti terus mengalir akibat kekalahan ini.
Sudah pasti akan ada kambing hitam untuk menutupi kekalahan ini dan tentunya akan masuk juga ke ranah politik mengingat memang ada usaha pihak-pihak tertentu yang berusaha menarik bidang olahraga ke kancah politik untuk kepentingan tertentu (mungkin saja termasuk oknum petinggi PSSI juga ikut menyeret PSSI ke kancah politik).
Siapa yang paling bertanggung jawab atas prestasi kesebelasan nasional kita ? Sudah pasti PSSI sebagai pembina persepakbolaan nasional dan pemerintah sebagai penentu kebijakan olah raga di tanah air. PSSI yang saat ini dipimpin oleh Nurdin Halid dianggap tidak berhasil meningkatkan prestasi Timnas dan tidak menghasilkan satu gelarpun meskipun hanya selevel ASEAN (AFF Cup).

Selain itu, dalam pengaturan tiket saja PSSI dianggap tidak mampu hingga terjadi kekacauan dalam pendristribusian dan penjualan tiket. Jadi jangan heran bila banyak desakan untuk melakukan perombakan total kepengurusan organisasi PSSI (yang saat ini tidak diakui FIFA karena keberadaan Nurdin sebagai ketua umumnya pernah terlibat kasus kriminal - korupsi).
Program pembinaan jangka panjang yang semestinya dilakukan untuk membentuk tim nasional yang tangguh ternyata juga belum berjalan bahkan bisa dibilang tidak ada, coba saja lihat dari periode pergantian pelatih yang singkat dan 'pengadaan' pelatih yang (dianggap) qualified dilakukan hanya setiap ada kejuaraan 'yang dianggap penting' saja (dulu Ivan Kolev dan Saat ini Riedl).
Gagalnya pembinaan bisa dilihat dari kondisi fisik dan mental pemain kita (meskipun secara teknik pemain kita sebenarnya masih diatas Malaysia), menurunnya konsentrasi dan mental pemain saat diteror oleh 'suporter' Malaysia merupakan salah satu bukti kegagalan tersebut.
Tampak jelas ketidakjelasan program pengembangan sepakbola ditanah air karena semuanya terkesan 'maunya instan' lihat saja dari program 'naturalisasi' padahal dari materi pemain yang ada sebenarnya kualitas pemain kita tidak kalah dengan pemain tim negara ASEAN yang lain.
Mudah-mudahan 'keajaiban' dan keberuntungan ada dipihak kita saat tanding ulang pada 'leg' kedua di Gelora Senayan nanti (29/12) hingga kita bisa membalas kekalahan ini dengan kemenangan telak minimal 4 - 0.

Post new comment