Media Informasi dan Stigma Negatif Islam
Jadi ingat dengan perbincangan saya dengan salah seorang kerabat beberapa waktu yang lalu di depan mushalla di lingkungan rumah saya. Saat sedang asyik ngobrol lewat seorang laki-laki sambil tersenyum ramah melewati kami, seorang laki-laki berpakaian gamis dan berjanggut.
Secara spontan kerabat saya mengatakan 'wah teroris dari mana nih, kayaknya nih orang dari jamaah tabligh,' katanya. Mendengarkan ucapan itu saya sedikit memberi pengertian sambil sedikit bercanda dan meminta dia untuk tidak langsung menuduh seseorang 'teroris' dari cara berpakaian.

Saya juga coba menjelaskan bahwa 'Jamaah Tabligh' bukan organisasi teroris tapi sebuah gerakan dakwah yang biasanya mewajibkan anggotanya 'bergerilya' dari masjid ke masjid untuk berdakwah.
Dari perbincangan tersebut, saya dapat menangkap bahwa pengetahuan kerabat saya ini tentang gerakan-gerakan Islam masih sangat minim. Padahal, Jamaah tabligh atau 'kelompok penyampai' ini adalah salah satu gerakan Islam yang menitik beratkan pada dakwah Islam dengan tujuan kembali ke ajaran Islam yang kaffah.
Selain kurangnya pengetahuan, jelas sekali kerabat saya ini telah menjadi korban pemberitaan dan informasi negatif yang berkembang di masyarakat yang banyak memberikan stigma negatif terhadap gerakan Islam (dan agamanya sendiri-Islam) yang selalu diidentikan dengan kekerasan dan terorisme.
Media informasi seperti surat kabar, radio, televisi dan internet sangat berperan dalam pemberian Stigma dan konotasi negatif terhadap Islam. Semakin menjamurnya media-media informasi liberal ditambah dengan kepentingan-kepentingan pihak tertentu dalam memberangus gerakan Islam semakin mencoreng Islam sebagai agama 'rahmatan lilalamin'.
Semakin menjamurnya aliran sesat dalam Islam dan lahirnya 'gerakan-gerakan' Islam yang mendengungkan pandangan serta tafsir-tafsir ajaran yang berusaha membelokan ajaran Islam semakin sulit diberantas karena berlindung dibalik isu 'HAM', apalagi banyak kalangan mensinyalir semua aliran dan gerakan Islam 'nyeleneh' ini dilindungi oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki 'agenda' tertentu terhadap Islam di tanah air.

Ditambah peristiwa-peristiwa pemboman yang terjadi beberapa waktu terakhir seolah-olah memang dirancang untuk memberikan stigma negatif terrhadap Islam (yang berkaitan dengan ajaran Jihad) terbukti dengan banyaknya pemberitaan dan kalangan pengamat yang terus menerus memberikan informasi dan penilaian tak berimbang tentang peristiwa tersebut dengan mengkaitkan peristiwa tersebut dengan 'kelompok Islam' tertentu yang tengah menjalankan aksi jihadnya.
Dalam peristiwa pemboman terakhir di Cirebon, pengamat teroris banyak mengkaitkan aksi ini dengan fatwa dari salah seorang 'ulama' asal Palestina Syaikh Abu Qatadah Al Filisthiniy dalam buku karyanya yang diterjemahkan Abu Sulaiman dan Oman Abdurrahman tentang bolehnya membakar dan meledakkan masjid karena alasan madharat sebagai salah satu sebab banyaknya pelaku bom bunuh diri.
Republika memberitakan, Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform (CIR) Sapto Waluyo, MSc mengkritik sejumlah pengamat yang disebutnya "hanya berspekulasi" di tengah penyelidikan polisi untuk mengungkap kasus bom bunuh diri itu.
CIR merupakan lembaga kajian strategi dan kebijakan, serta rujukan informasi untuk masalah ekonomi, politik, sosial-budaya, sains-teknologi, hukum dan hak asasi manusia (HAM).
Ia mengemukakan bahwa Syaikh asal Palestina itu tidak dikenal, dan konteksnya juga berbeda. Sapto Waluyo, juga mengkritik Nasir Abbas yang menyebut bom itu sebagai warisan Dr Azahari.
"Itu analisis menyesatkan karena kasus Cirebon adalah efek boomerang akibat aksi represif Densus 88," katanya. Ia menyatakan mendukung penuh upaya Polri mengungkap tuntas peristiwa bom d Mapolresa Cirebon itu.
Ini adalah 'PR' besar bagi umat Islam terutama bagi ulama (the real ulama) dan da'i di tanah air untuk memberikan pengertian dan pengetahuan kepada umat tentang gerakan-gerakan Islam, perkuat gerakan dakwah dan rapatkan barisan untuk menghadapi semua tantangan yang ada.

Post new comment