Tidak Ada yang Sempurna

Manusia memang tidak ada yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT, manusia adalah 'tempatnya' kekhilafan' dan kesalahan tapi kita wajib selalu beristighfar dan memohon ampun serta selalu berdoa kepadaNya agar selalu ditunjukan jalan yang lurus dan benar.
Bulan Ramadhan yang mulia ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk berinstropeksi dan bertobat. Tulisan in sebenarnya hanya sekedar tumpahan isi hati saya yang saat ini sedikit merasa resah.
Resah ? ya, bagaimana tidak. Di bulan yang suci ini saya sedikit merasa terusik dengan ceramah-ceramah sebuah masjid di sekitar lingkungan saya. Ada oknum penceramah disana yang isi ceramahnya mengusik 'ketentraman' saya dalam menjalani ibadah puasa hingga saya juga merasa risih untuk shalat di masjid ini karena merasa terprovokasi dengan isi ceramah-ceramah di masjid ini.
Isi ceramah ustad di masjid ini dapat memecah umat (setidaknya ini menurut saya) karena terkesan 'menghujat' bid'ah mengenai 'tradisi' maulid, shalawat dan beberapa tradisi keagamaan yang umum dilakukan oleh masyarakat umum terutama masyarakat di sekitar lingkungan saya yang sebagian besar adalah komunitas Betawi dan perantauan suku Jawa yang masih kental dengan tradisi-tradisi ini.
Bila kita bicara bid'ah, maka Al-quran yang kita gunakan saat ini bisa dikategorikan bid'ah karena di zaman rasululullah hidup tidak pernah ada Al-quran yang berbentuk buku/kitab seperti saat ini dan pakaian, celana panjang, sarung dan kopiah yang kita gunakan untuk shalat-pun bisa dikategorikan bid-ah karena dizaman rasulullah tidak pernah digunakan (karena memang belum ada) bahkan mobil yang digunakan para Da'i untuk membawa mereka ke 'medan' dakwah juga bisa dikategorikan bid'ah.
Menurut saya, pendekatan penyampaian dakwah yang dilakukan ustad-ustad ini tidak mengena hingga dapat memecah umat dilingkungan saya hingga masyarakat sekitar menjadi enggan beribadah di masjid yang semestinya menjadi milik umat dan bukan milik segolongan umat yang 'anti' maulid.
Masyarakat awam dapat terpancing dengan 'pengkotak-kotakan' Islam yakni Islam NU, Islam Muhammadiyah dan Islam-islam yang lain. Penyampaian dakwah yang kurang bijak karena tidak menyentuh akar sejarah dari tradisi yang sudah ada, penyampaian yang semestinya dapat dilakukan dengan cara persuasif dan membutuhkan waktu.
Semestinya para ustad ini mengetahui, bahwa tradisi yang ada di masyarakat saat ini adalah peninggalan dari metode dakwah yang dilakukan oleh para wali (wali songo) saat penyebaran Islam di pulau Jawa. Selain itu menghilangkan suatu tradisi dalam masyarakat tidak semudah membalik telapak tangan.
Selama tradisi ini sulit 'dihilangkan' semestinya para Da'i ini cukup memberikan arahan agar tradisi ini tidak 'membelok' dari ajaran Islam, salah satu contohnya adalah adanya pemahaman mengenai menghadiahkan pahala kepada anggota keluarga yang sudah meninggal yang kadang mengiringi tradisi 'sedekahan' atau 'selamatan' yang biasa diadakan masyarakat umum karena tradisi ini sebenarnya baik karena mengingatkan kita yang hidup untuk selalu mengingat mati dan tidak pernah melupakan untuk mendoakan saudara kita yang telah meninggal agar diberikan kelapangan di alam kubur dan meningkatkan semangat berbagi rejeki yang ditandai pembagian makanan yang biasa mengiringi kegiatan ini.
Atau para Da'i ini juga wajib memastikan dan mengarahkan umat yang mengadakan tradisi Maulid agar tidak terkesan seperti merayakan 'ulang tahun' nabi Muhammad SAW. Saya yakin, kita semua faham bahwa tradisi ini sebenarnya tidak pernah diajarkan Rasulullah SAW tapi selama kegiatan ini hanya untuk meningkatkan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan mengingat kembali semua ajaran dan sunah-sunahnya yang pernah diajarkan kepada kita demi meningkatkan ketakwaan dan keimanan, saya rasa kegiatan tidak ada masalah selama tidak diselingi ritual-ritual yang keluar dari ajaran Islam.
Pendekatan dakwah secara fundamental seperti yang dilakukan di Arab Saudi (yang didominasi kelompok Wahabi) sebenarnya tidak mengena karena yang dihadapi ini adalah tradisi yang sudah turun temurun dan bila dipaksakan maka akan terjadi perpecahan di masyarakat dan Da'i seperti ini akan kurang mendapatkan 'respect' dari masyarakat bila tidak menggunakan metode dakwah yang sesuai dengan kultur masyarakat.
Yah, Ustad juga manusia yang tidak sempurna tapi seyogyanya pihak-pihak yang berkompeten seperti ormas Islam, MUI dan lembaga-lembaga dakwah wajib memberikan arahan-arahan atau mungkin pelatihan dakwah dan pengawasan terhadap para Da'i yang ada di masyarakat hingga dapat mencegah terjadinya kebingungan di masyarakat dan pengkotak-kotakan kelompok dalam masyarakat yang dapat memicu perpecahan umat Islam karena bila ini terjadi maka hancurla Islam di negeri Islam terbesar di dunia ini dan mudah menjadi santapan kaum pembenci Islam dan Zionis yang memang berniat menghancurkan persatuan Islam.
Semoga Ramadhan yang suci ini tidak hanya menjadi sarana untuk memperbanyak pahala dan meraih ampunan Allah SWT tapi juga menjadi media pemersatu umat Islam di tanah air bahkan mungkin umat Islam di dunia... Amiiieen.

Post new comment